Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali Pertanyaan yang menjadi judul dari artikel ini lahir sebagai tanggapan saya atas cuplikan pada salah satu buku yang sedang ditulis oleh seseorang yang berinisial B K. Dalam buku terbaru yang sedang beliau tulis yang diberi judul " Does a Pastor really need to write a book?", Beliau mencantumkan beberapa nama penulis yang beliau anggap sebagai inspirator beliau secara pribadi dalam menulis. Diantara beberapa nama yang beliau sodorkan, ada satu nama yang menyita perhatian saya, yaitu Pdt Erastus Sabdono. Dalam beberapa tahun belakangan ini, nama Erastus Sabdono telah menjadi buah bibir di kalangan intelektual Kristen, hal ini tidak terlepas dari ajarannya yang "nyeleneh" dan menyimpang dari iman Kristen yang konservatif. Saya sendiri bahkan tidak ragu untuk menyatakan bahwa ajaran Erastus Sabdono adalah SESAT! dengan merujuk kepada Alkitab dan standar iman Kristen yang dirumuskan oleh para bapa-bapa gereja. Sebelum masuk...
Menulis bukan sekadar membagikan gagasan, tapi untuk memastikan bahwa suara kita tidak mati bersama jasad. Menulis adalah nafas yang abadi. Meski raga kita telah diam membisu, pikiran kita tetap bisa bersuara lewat kata.