AKU : Wahai langit, saat ini aku merasa perlu berbicara, tapi bukan kepada manusia, melainkan kepada sesuatu yang tak pernah menghakimi Kepada sesuatu yang tak pernah bertanya mengapa aku diam atau mengapa aku menangis. Sesuatu yang hanya mendengar, dengan keheningan yang penuh pemahaman. Dan aku percaya itu adalah kamu. Langit, aku ingin berbagi sesuatu yang tak pernah mudah untuk ku ungkapkan. Masa lalu yang ku pendam, jauh di sudut hati, hanya diketahui oleh segelintir orang di dunia ini. Aku lahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara, meski sejatinya bukanlah yang pertama. Dua kakakku telah berpulang bahkan sebelum mereka sempat mengenal dunia. Kehilangan itu menyakiti bapa begitu dalam hingga ia hampir kehilangan dirinya sendiri. Berbagai usaha dilakukan agar aku, anak ketiga yang bertahan, bisa hadir dengan selamat. Mereka berobat ke “orang pintar”, memohon kepada leluhur, bahkan menjalani pantangan yang dianggap sakral. Akhirnya, aku lahir. Sebuah harapan baru bagi me...
Menulis bukan sekadar membagikan gagasan, tapi untuk memastikan bahwa suara kita tidak mati bersama jasad. Menulis adalah nafas yang abadi. Meski raga kita telah diam membisu, pikiran kita tetap bisa bersuara lewat kata.